_ap_ufes{"success":true,"siteUrl":"www.ilmumanajemenindustri.com","urls":{"Home":"http://www.ilmumanajemenindustri.com","Category":"http://www.ilmumanajemenindustri.com/category/manajemen-kualitas/","Archive":"http://www.ilmumanajemenindustri.com/2016/11/","Post":"http://www.ilmumanajemenindustri.com/sistem-manajemen-yang-wajib-diterapkan-pada-industri-manufakturing/","Page":"http://www.ilmumanajemenindustri.com/daftar-isi-ilmu-manajemen-industri/","Attachment":"http://www.ilmumanajemenindustri.com/sistem-manajemen-yang-wajib-diterapkan-pada-industri-manufakturing/sistem-manajemen-yang-wajib-yang-diterapkan-pada-industri-manufakturing/","Nav_menu_item":"http://www.ilmumanajemenindustri.com/76/"}}_ap_ufee

Strategi Respon Produksi Terhadap Permintaan Konsumen

Strategi Respon Produksi Terhadap Permintaan Konsumen

Strategi Respon Produksi Terhadap Permintaan Konsumen – Dalam memenuhi Permintaan Konsumen, Perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang Manufakturing biasanya menerapkan strategi-strategi respon produksi yang berbeda-beda. Jadi pada dasarnya, yang dimaksud dengan Strategi Respon Produksi terhadap Permintaan Konsumen adalah Respon atau tanggapan suatu perusahaan manufakturing dalam merealisasikan permintaan Konsumen sesuai dengan waktu dan jumlah yang diperlukannya.

Pada umumnya, Strategi Respon Produksi terhadap Permintaan Konsumen ini terdiri dari 5 jenis, yakni Design to Order (DTO), Assembly to Order (ATO), Make to Order (MTO), Make to Order (MTO) dan Make to Demand (MTD)

1. Design to Order (DTO)

Yang dimaksud dengan Design to Order (DTO) atau sering juga disebut dengan Engineering to Order (ETO) adalah Strategi respon pemenuhan permintan konsumen yang dimulai dari proses perancangan produk sesuai spesifikasi yang dibutuhkan oleh konsumen/pelanggan hingga diproduksi dan dikirimkan ke tangan konsumen/pelanggan. Jadi Perusahaan Manufakturing yang bersangkutan baru akan melakukan proses perancangan (design) dan melakukan proses produksi apabila ada permintaan yang pasti dari konsumen/pelanggan.  Salah satu keuntungan dari strategi ini adalah perusahaan tidak mempunyai persediaan (inventory) sehingga biaya persediaan boleh dikatakan hampir “tidak ada”.

Strategi Design to Order (DTO) atau Engineering to Order (ETO) ini cocok untuk perusahaan-perusahaan Manufakturing yang memproduksi produk-produk yang baru ataupun produk yang unik. Contohnya seperti Jembatan, produk-produk militer, Kapal, Pesawat Terbang, peralatan khusus industri dan Gedung.

2. Assembly to Order (ATO)

Pada Strategi Assembly to Order (ATO) ini, perusahaan manufakturing akan membuat modul-modul standar atau sub-assembly yang standar sehingga dapat merespon dengan cepat setiap permintaan konsumen/pelanggan. Apabila Konsumen atau Pelanggan melakukan pemesanan, Perusahaan akan merakit modul atau sub-assembly tersebut sesuai dengan permintaan yang dibutuhkan oleh pelanggan/konsumen. Jadi pada dasarnya, Modul-modul atau Sub-Assembly Standar tersebut telah diproduksi terlebih dahulu sebelum Konsumen/pelanggan mengkonfirmasikan pesanannya.

Salah contoh Strategi Assembly to Order (ATO) adalah pada produk Komputer, perusahaan akan membuat modul-modul standar seperti Modul RAM, Harddisk, Motherboard, Prosesor dan DVD Drive. Begitu terima konfirmasi pesanan dari Konsumen, perusahaan tersebut langsung melakukan perakitan semua modul yang bersangkutan menjadi 1 unit komputer yang lengkap.

Perusahaan yang menerapkan strategi Assembly to Order (ATO) ini memiliki resiko dalam menyimpan persediaan (inventory) modul-modul standar yang bersangkutan. Namun resiko tersebut dapat diminimalisasikan dengan sistem peramalan yang akurat.

3. Make to Order (MTO)

Pada Strategi Make to Order (MTO), Perusahaan hanya akan melaksanakan proses produksi apabila menerima konfirmasi pesanan dari konsumen/pelanggan untuk produk tertentu. Konsumen atau Pelanggan biasanya bersedia untuk menunggu produsen (perusahaan manufakturing) untuk menyelesaikan produksinya. Berbeda dengan Design to Order (MTO), Make to Order (MTO) ini tidak dimulai dari proses perancangan atau Design karena Produk yang diminta oleh Konsumen/pelanggan pada dasarnya sudah pernah diproduksi sebelumnya atau perancangannya sudah siap sebelumnya.

 4. Make to Stock (MTS)

Make to Stock adalah Strategi dimana produsen telah melakukan proses produksi dan produk-produk mereka telah berbentuk barang jadi sebelum menerima pesanan dari konsumen/pelanggan. Barang-barang jadi tersebut siap-siap dikirim ke konsumen atau pelanggan begitu pesanan dari pelanggan diterima oleh perusahaan manufakturing yang bersangkutan.

Strategi Make to Stock (MTS) memiliki resiko yang tinggi karena mempunyai persediaan (inventory) yang banyak sehingga biaya-biaya yang berkaitan dengan persediaan juga menjadi tinggi. Namun kelebihannya adalah dapat dengan cepat merespon permintaan konsumen sehingga konsumen ataupun pelanggan tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk mendapatkan produknya.

Strategi Make to Stock (MTS) ini sering digunakan oleh perusahaan manufakturing yang membuat barang-barang konsumsi seperti peralatan rumah tangga, bahan-bahan pokok, produk makanan dan mainan anak-anak. Pada umumnya, perusahaan-perusahaan ini memiliki sistem peramalan yang akurat dalam mengurangi resiko yang dihadapinya.

5. Make to Demand (MTD)

Make to Demand (MTD) merupakan suatu Strategi Respon yang relatif baru, Strategi ini dikembangkan untuk memenuhi permintaan konsumen/pelanggan dengan cepat dan lebih fleksibel. Pada Strategi Make to Demand ini, Perusahaan dapat menyerahkan jumlah yang dibutuhkan Pelanggan/Konsumen pada waktu yang tepat sesuai dengan permintaan pelanggan/konsumen. Strategi ini pada dasarnya adalah gabungan dari beberapa Strategi yang disebutkan diatas.

Design (rancangan), Bahan-bahan baku, Modul atau Sub-Assembly, ataupun produk jadi dapat disimpan sebagai inventory (persediaan). Namun tantangan dalam Make to Demand ini adalah bagaimana memperhitungkan dan meningkatkan Efisiensi dan Efektifitas dalam suatu Inventory (Persediaan).

Strategi to Demand ini pada umumnya meliputi penerapan beberapa sistem produksi modern seperti Sistem Just in Time (JIT), Lean Manufakturing dan Sistem pengendalian Kualitas Six Sigma.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*